Kisah Sukses – Max dan perangnya dengan skoliosis (tulang belakang bengkok)

Berkat aksesibilitas media sosial, Max telah mampu berbagi kisah perangnya dengan skoliosis. Wanchai Rattikaset, anak 15 tahun pemberani yang lebih dikenal dengan nama Max, lama menderita akibat skoliosis, suatu kondisi yang bisa berujung pada kelainan bentuk tulang belakang.

Kisah Sukses – Max dan perangnya dengan skoliosis (tulang belakang bengkok)

 

Saat Max masih kecil, ibu dan ayahnya meninggal akibat kanker. Untungnya, kakek dan neneknya di Rayong sempat membesarkannya.

Kondisi kesehatan fisik Max bagus hingga sekitar usia sembilan tahun, saat dia mendadak merasa sakit dan mengalami demam tinggi. Nenek Max mencari pengobatan di beberapa rumah sakit berbeda, tapi tidak lama setelahnya, Max jatuh sakit lagi. Setelah itu tampak jelas bahwa Max mulai mengidap abnormalitas dalam tulang belakangnya. Sebuah uji tapis mengungkap bahwa Max menderita skoliosis, suatu penyakit yang penyebabnya masih belum diketahui.

Selama masa awal pengobatannya, Max mengunjungi dokter yang bekerja di rumah sakit dekat rumahnya di Rayong. Dia tidak menjalani operasi untuk skoliosisnya, tapi diberi penopang punggung untuk mengatasi berbagai gejalanya yang menyakitkan, dan untuk mencegah memburuknya kelainan bentuk tulang belakangnya. Ini berarti, untuk jangka waktu yang singkat, situasi Max bisa teratasi.

Meski begitu, kemudian, gejala-gejala menyakitkan Max kembali dan tulang belakangnya menjadi bahkan semakin bengkok, hingga dia tidak lagi bisa bersekolah. Nenek Max membawanya kembali ke rumah sakit, tapi situasinya telah memburuk, dan dokternya tidak lagi bisa menawarkan perawatan bedah untuk skoliosis Max. Tulang belakangnya mengalami kelainan bentuk di lebih dari 20 titik. Dokternya menyarankan Max berobat di rumah sakit yang lebih besar di Bangkok, walau dia memperingatkan bahwa perawatan semacam itu kemungkinan besar berbiaya amat besar.

Pengalaman pengubah hidup yang dibagikan oleh Max dan keluarganya

Kerabat Max memutuskan untuk menceritakan kondisinya via daring, dalam usaha menggalang dana untuk membayar pengobatan Max. Saat itulah hidup Max akan berubah selamanya.

Proyek “Dana Hidup Baru Untuk Skoliosis,” bertujuan untuk membantu anak-anak penderita skoliosis. Saat Samitivej mendengar kisah Max di acara TV, Punfun Punyim (Berbagi Impian, Berbagi Senyuman), mereka mengatur agar Max menjalani bedah skoliosis gratis. Operasinya dilakukan di Rumah Sakit Samitivej Srinakarin pada 5 Juli 2016, oleh satu tim dokter spesialis bedah skoliosis dan satu tim dokter rehabilitatif yang dipimpin oleh Prof. Emer. Charoen Chotigavanich, M.D. dan Prawit Sukcharoenchaikul, M.D.

Kekuatan Max, dan dedikasi dari tim bedahnya berujung pada operasi yang sukses. Semua gejala Max kini secara sinambung membaik, dan dia mampu kembali pulang dan bersekolah untuk menikmati sisa masa remajanya.

Kisah Sukses – Max dan perangnya dengan skoliosis (tulang belakang bengkok)

The doctor recommends…always look out for scoliosis symptoms; seek out treatment immediately; and don’t be afraid of surgery

Dokter menyarankan…selalu waspada terhadap gejala skoliosis; segera berobat; dan jangan takut dengan operasi

Orang tua harus selalu mengamati gejala anaknya, dan jeli terhadap kondisi bahu dan dada. Jika salah satu area ini tampak miring atau tidak rata, atau jika tubuhnya tampak bengkok dan timpang, orang tua harus memperhatikan dengan teliti. Jika si anak akhirnya didiagnosis mengidap skoliosis, orang tua harus segera mengobatinya. Takut akan bedah atau mengabaikan masalahnya bisa berakibat memburuknya kondisi anak Anda. Masalah pernapasan, jantung dan saluran pernapasan hanya beberapa hasil akibat kurangnya pengobatan.

Pengobatan skoliosis anak-anak dan dewasa amat mirip. Namun, seperti ungkapan lama Thailand, “Dahan muda mudah dibengkokkan, sedangkan dahan tua tidak.” Akibatnya, hasil pengobatan untuk pasien dewasa tidak selalu 100% sukses. Ini karena skoliosis pada pasien dewasa harus didiagnosis berdasarkan apakah itu baru mulai menghasilkan abnormalitas tulang belakang, atau apakah itu telah menghasilkan abnormalitas tulang belakang sejak pasiennya kanak-kanak tapi didiamkan saja tanpa pengobatan. Oleh karena itu, baik Anda berusia dewasa atau anak-anak, Anda harus waspada dan secara teratur memeriksa kemungkinan berbagai abnormalitas seperti itu.

Skor rating