Saat Max masih kecil, ibu dan ayahnya meninggal akibat kanker. Untungnya, kakek dan neneknya di Rayong sempat membesarkannya.
Kondisi kesehatan fisik Max bagus hingga sekitar usia sembilan tahun, saat dia mendadak merasa sakit dan mengalami demam tinggi. Nenek Max mencari pengobatan di beberapa rumah sakit berbeda, tapi tidak lama setelahnya, Max jatuh sakit lagi. Setelah itu tampak jelas bahwa Max mulai mengidap abnormalitas dalam tulang belakangnya. Sebuah uji tapis mengungkap bahwa Max menderita skoliosis, suatu penyakit yang penyebabnya masih belum diketahui.
Selama masa awal pengobatannya, Max mengunjungi dokter yang bekerja di rumah sakit dekat rumahnya di Rayong. Dia tidak menjalani operasi untuk skoliosisnya, tapi diberi penopang punggung untuk mengatasi berbagai gejalanya yang menyakitkan, dan untuk mencegah memburuknya kelainan bentuk tulang belakangnya. Ini berarti, untuk jangka waktu yang singkat, situasi Max bisa teratasi.
Meski begitu, kemudian, gejala-gejala menyakitkan Max kembali dan tulang belakangnya menjadi bahkan semakin bengkok, hingga dia tidak lagi bisa bersekolah. Nenek Max membawanya kembali ke rumah sakit, tapi situasinya telah memburuk, dan dokternya tidak lagi bisa menawarkan perawatan bedah untuk skoliosis Max. Tulang belakangnya mengalami kelainan bentuk di lebih dari 20 titik. Dokternya menyarankan Max berobat di rumah sakit yang lebih besar di Bangkok, walau dia memperingatkan bahwa perawatan semacam itu kemungkinan besar berbiaya amat besar.
Pengalaman pengubah hidup yang dibagikan oleh Max dan keluarganya
Kerabat Max memutuskan untuk menceritakan kondisinya via daring, dalam usaha menggalang dana untuk membayar pengobatan Max. Saat itulah hidup Max akan berubah selamanya.
Proyek “Dana Hidup Baru Untuk Skoliosis,” bertujuan untuk membantu anak-anak penderita skoliosis. Saat Samitivej mendengar kisah Max di acara TV, Punfun Punyim (Berbagi Impian, Berbagi Senyuman), mereka mengatur agar Max menjalani bedah skoliosis gratis. Operasinya dilakukan di Rumah Sakit Samitivej Srinakarin pada 5 Juli 2016, oleh satu tim dokter spesialis bedah skoliosis dan satu tim dokter rehabilitatif yang dipimpin oleh Prof. Emer. Charoen Chotigavanich, M.D. dan Prawit Sukcharoenchaikul, M.D.
Kekuatan Max, dan dedikasi dari tim bedahnya berujung pada operasi yang sukses. Semua gejala Max kini secara sinambung membaik, dan dia mampu kembali pulang dan bersekolah untuk menikmati sisa masa remajanya.